Permintaan Tinggi, PT. Rajawali Tanjungsari Injiring Garap 22 Juta Lembar Karung Plastik

1898

Surabaya(Harjatim)- Sempat ‘mati suri’ berhenti aktivitas dari usahanya pada tahun 2015. Potensi bisnis baru berupa produksi karung plastik di PT Rajawali Tanjungsari Injiniring (RNI Group) memberikan ‘asa baru’ menyokong keberlangsungan dunia bisnis salah satu anak perusahaan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI Group). Terbukti perusahaan yang indentik bergelut pengolahan kulit hewan itu, kini menerima permintaan order karung plastik sebanyak 22 juta lembar di tahun 2019.

Direktur Utama PT.Rajawali Tanjungsari Injiniring, Salim mengungkapkan keberlangsungan bisnis baru berupa produksi karung plastik yang dimulai sejak tahun 2016 lalu terbilang stabil hingga kini. Meski baru 3 tahun berjalan permintaan mengalami trend kenaikan yang signifikan.

“ Permintaan dari tahun ke tahun terus mengalami trend kenaikan. Kenaikan rata-rata berkisar 5 persen hingga 7 persen,” ujar Salim di sela-sela mengecek pekerjaan di gudang produksi PT Rajawali Tanjungsari Injiniring, Rabu (29/5/2019).

Masih menurutnya sesuai order yang masuk, di tahun 2019 ditarget bisa produksi sebanyak 22 juta lembar karung plastik. Begitu juga tahun 2018 jumlah order berkisar diangka yang sama.

“ Permintaan tinggi, kita mengejar jumlah produksi supaya bisa terpenuhi. Untuk memicu terpenuhnya target, kita memberlakukan tiga shift kerja,” lanjut Salim.

Order sebanyak 22 juta lembar lanjut Salim dengan komposisi didominasi pasar non captive sebanyak 60 persen. Selanjutnya pasar captive 30 persen (group RNI) sisanya 10 persen pasar swasta.

“ Rinciannya sebanyak 6 juta lembar karung plastik pasar permintaan group RNI. Selanjutnya pasar swasta sebanyak 2,5 juta lembar. Sementara sisanya pasar PIHC (Pupuk Indonesia Holding Company),” beber Salim.

Bahan baku karung plastik masih didominasi dari perusahaan lokal. Meski sebagian ada yang dari Jakarta. Ketersediaan bahan baku dan harganya yang fluktuasi tekadang masih menjadi kendala produksi.

“ Misalnya, Bulan April lalu kita juga mengalami kendala bahan baku. Makanya Bulan Juni kita akan mengejar ketertinggalan produksi. Untuk memenuhi kontrak,” aku Salim.

Sementara disinggung mengenai keberlangsungan bisnis pengolahan kulit hewan. Salim menyatakan meski pasarnya ‘lesu’ namun masih tetap bergulir. Segmen pasar lokal dan ekspor.

“ Untuk kulit pasar kita maklon, tergantung pesanan. Produksi penyamakan kulit kita masuk ke industri sepatu dan kerajinan kulit,” tandasnya.

Bahan baku dan rendahnya permintaan pasar menyebabkan industri pengolahan kulit menjadi fluktuatif. “ Pasar industri kulit tidak stabil. Bahan baku kini banyak yang dijadikan recek dan rambak. Begitu juga mencari kondisi bahan baku yang bagus di pasar tidak mudah,” pungkas pria mantan Kacab di PT Rajawali Nusindo ini.

 (awe/ka)