Kantor Pertanahan Kabupaten Tulungagung beri Gratis Layanan Antar Sertifikatnya

1595

Tulungagung (Harjatim) – Memfasilitasi warga yang sakit atau berhalangan karena kondisi sakit, ataupun urusan lainnya. Kantor Pertanahan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menyediakan layanan antar sertifikat produk Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dengan tarif gratis langsung ke warga.

Menurut keterangan Kepala Kantor Pertanahan Tulungagung Eko Jauhari, Senin,1/2 produk layanan itu sengaja disediakan untuk warga berhalangan karena kondisi apapun

“Misalnya ada warga yang sepuh, yang sakit dan tidak dapat meninggalkan ranjang, atau yang mengalami disabilitas, sertifikatnya akan kami antar,” ujar Kepala Kantor Pertanahan Tulungagung Eko Jauhari, Senin.1/2

Lanjut Eko, sebenarnya pengambilan sertifikat tidak harus yang bersangkutan, bisa juga lewat kuasa. Namun prosesnya lebih lama, karena harus membuat berita acara, dengan pengantar dari kepala desa. Proses ini juga, katanya, memberikan tugas tambahan bagi petugas di Kantor Pertanahan.

“Untuk memudahkan warga yang memang berhalangan, akhirnya kami putuskan untuk mengantar kepada warga langsung. Jadi kami yang datang, sehingga warga yang berhalangan tidak perlu repot,” ucap Eko.

Dia menjelaskan, pada kurun 2019 Kantor Pertanahan Tulungagung dibebani target sebanyak 32.000 sertfifikat lewat PTSL dan terealisasi 98,5 persen, atau 31.500 lebih.

Dari jumlah sertifikat yang jadi itu, 60 persen di antaranya sudah dibagi, sedangkan sisanya akan dilakukan bertahap dan diharapkan tuntas pada Maret 2020.

“Kemarin sengaja kami bagi sedikit demi sedikit, untuk memancing warga lain yang belum ikut PTSL. Karena rugi kalau sampai program ini tidak dimanfaatkan,” ujar Eko.

Sementara pada 2020, Kantor Pertanahan Tulungagung dibebani target 36.000 sertifikat lewat PTSL. Untuk jumlah desa yang ikut program itu turun dari 36 desa di tahun lalu menjadi 22 desa.

Kata Eko, pihaknya memang ingin jumlah desa yang ikut lebih sedikit, agar bisa lebih fokus.“Lebih baik desanya sedikit, tapi petak tanahnya banyak. Dari pada desanya banyak, tapi yang ikut hanya sedikit,” kata Eko. (an/wan)