Kegelisahan Dunia Seni di Era Pandemi

490

Pada suasana pandemi Coronavirus Desease 2019 (covid-19) dunia kesehatan dan sosial telah menjadi perbincangan hangat yang terus bergulir hampir setiap saat. Sosialisasi lewat media sosial terus menerus digalakan guna mengajak khalayak dalam menjaga kesehatan, menjaga jarak (sosial distancing) dan tagar himbauan di rumah aja terpampang nyata pada setiap media masa maupun sosial. Ini merupakan salah satu langkah positif dalam upaya memutus rantai penyebaran Coronavirus Desease 2019 (covid-19).

Namun ada hal yang seakan luput dari perhatian yaitu pengaruh covid-19 di dunia kesenian. Kegiatan kesenian  seperti pameran, seni pertunjukan, diskusi dan temu ilmiah yang tentunya melibatkan banyak orang, bahkan sejatinya mengundang khalayak ramai untuk berkumpul pada even tertentu. Khalayak ini melibatkan berbagai kalangan, meliputi masyarakat umum sebagai penikmat seni, seniman sebagai pencipta, kurataorial sebagai apresiator maupun karya seni untuk di bidang komersial. Hal ini menjadi kontradiktif jika dihubungkan dengan perkara himbauan untuk di rumah aja. Disisi lain para kreatoe seni perlu mengeksplor karyanya baik untuk kebutuhan hasrat batin maupun kebutuhan finansial.

Pandemi covid-19 tidak dapat dipungkiri kemudian menjadi penyebab tertundanya berbagai kegiatan kesenian, diantarannya kegiatan pameran baik pameran untuk sosial maupun akademik/pendidikan di lembaga pendidikan tinggi. Selain itu  diskusi terbuka yang biasa diadakan oleh rumah budayapun ikut tertunda. Belum lagi edukasi dan pendidikan kebudayaan lewat galeri-galeri seniman maupun museum terhentikan, karena tempat ditutup sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Hal ini juga berpengaruh pada pembelajaran di dunia akademik, misalkan untuk mata kuliah di bidang seni yang mengharuskan mahasiswa berkunjung dan observasi ke tempat-tempat sejarah atau galeri seni secara langsung.

Seperti mata kuliah kapita selekta budaya yang biasanya ada tugas kunjungn situs budaya, mata kuliah fotografi yang terkadang dianjurkan hunting foto, mata kuliah menggmbar bentuk yang sering mengajak mahasiswa untuk menggambar obyek secara langsung dan mata kuliah praktik lainnya. Kini agenda dari beberapa mata kuliah tersebut harus digantikan dengan pembelajran daring/online. Namun keadaan inipun ketika diambil sisi positifnya, mengajak para pengajar untuk berfikir keras dan kreatif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui media pembelajaran yang disajikan di dunia virtual.

Krisis yang akhirnya terjadi dunia seni di ranah publik semakin meredup pada kondisi pandemi-19 ini. Sangat disayangan mengingat Indonesia merupakan Negara yang terkenal dalam aspek budayanya, ketika ranah kesenian merupakan bagian penting dalam aktivitas kebudayaan, terhambat penyelenggaraannya.

Misalnya pameran karya  yang biasanya menjadi ajang yang ditunggu di dunia seni rupa, di era pandemi covid-19 tidak ada yang melaksanakannya. Pada pameran seni rupa melibatkan berbagai kalangan tidak sekedar seniman saja, namun pekerja bagian sound system, galeri-galeri ruang pamer dan pegiat di bidang musik maupun tari yang tidak jarang dilibatkan dalam mengisi pertunjukan pada kegiatan/even pameranpun terkena dampaknya. Padahal sejatinya kegiatan seni baik oleh seniman maupun akademisi yang dilaksanakan di ranah ruang publik sebagai momen unjuk karya dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

Cara ini sebagai salahsatu upaya dalam  meningkatkan rasa cinta serta edukasi masyarakat dibidang seni dan budaya.   Belum lagi ditengah-tengah masyarakat yang terbiasa sekedar melepas penat dari lelahnya bekerja dengan menikmat dunia kesenian harus mampu menahan diri dari kebiasaanya, misalkan yang senang menonton konser musik, menonton film di bioskop pada waktu weekend bersama teman maupun keluarga kini tidak bisa, menonton pertunjukan tari secara langsungpun hanya sekedar mimpi maupun meramaikan festival kegiatan seni lainnya.

Ataupun rutinitas sederhana namun punya tempat tersendiri dihati penikmatnya untuk duduk bersama sekedar ngopi santai dan berbincang akan agenda seni dan diskusipun terhenti. Selain mempengaruhi rotasi kegiatan seni sebagai bagian dari agenda kebudayaan,  keadaan ini juga berpengaruh pada segi psikologis masyarakat terkait rasa senang, gembira,terhibur, dan sebagainya yang biasanya didapat dari menikmati dunia seni.

Namun demikian tidak sedikit pegiat seni dan budaya yang terus berusaha menghidupkan kesenian pada masa pandemi covid-19. Salah satunya dengan bergerak melalui daring/online seperti mengadakan kolaborasi pertunjukan musik, seminar, kuliah umum kesenian maupun diskusi seputar dunia seni dan budaya. Hal ini sebagai sisi lain cara beraktifitas dalam dunia kesenian dan menikmati seni di era pandemi sebagai gerakan kreatif dan inovatif. Namun tidak dapat dipungkiri penyajian kegiatan kesenian melalui dunia virtual tidak sepenuhnya mampu menggantikan hadirnya roh/jiwa estetika, yang melibatkan kepekaan indera oleh raga secara langsung yang hadir di dunia nyata.(*)

 

Penulis : Ernawati

Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV), Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA), Sidoarjo.