Akankah Perekonomian Indonesia Pulih dengan Diterapkannya New Normal ?

216

Indonesia bersiap menghadapi era normal yang baru atau new normal pada kondisi pandemi virus Corona (COVID-19). New normal atau kenormalan baru adalah istilah yang populer belakangan ini. Istilah ‘new normal’ merujuk ke kondisi ‘kenormalan’ yang berbeda dengan masa pra pandemi covid – 19. Mengacu pada paparan Presiden Joko Widodo, masa new normal ini adalah saat masyarakat mulai ‘dipaksa’ berdamai dengan virus Corona. Hidup berdampingan bersama Covid-19 diimbangi dengan mengedepankan protokol kesehatan hingga ditemukannya vaksin.

Pemerintah telah menerapkan skenario new normal untuk menjalankan roda perekonomian nasional. Skema ini diharapkan bisa memperbaiki kondisi ekonomi yang masih tertekan akibat pandemi COVID-19. Motivasi ekonomi menjadi alasan paling utama. Sebab, kebijakan penanganan Corona mulai dari ‘lockdown lokal’ (tingkat desa) hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) benar-benar telah memukul ekonomi dari dua sisi, supply side dan demand side.

Pembatasan kegiatan masyarakat dan ruang publik mulai dilonggarkan sebagai upaya menuju tatanan normal baru (new normal). Perkantoran di ibukota sudah mulai beroperasi secara efektif, pusat perbelanjaan atau mal dibuka pada 15 Juni 2020 dan taman rekreasi akan kembali beroperasi pada 20-21 Juni 2020 mendatang. Tak hanya itu, kapasitas maksimal untuk transportasi publik yang sebelumnya hanya boleh 50 persen dari total kursi yang ada, kini jumlahnya naik rata-rata menjadi 70 persen. Kebijakan ini diharapkan menggerakkan lagi aktivitas perekonomian di dalam negeri.
Lantas apakah era new normal ini menjadi kabar baik bagi perekonomian Indonesia?

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet, hal itu tergantung kesiapan Indonesia untuk hidup berdampingan dengan virus Corona yang hingga kini belum ada vaksinnya. Pandemi Covid-19 memang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berpotensi melambat hingga di bawah 5%. Meski demikian, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat kembali tumbuh 5% paling lambat 2023. “Target 2022 atau 2023, minimal kembali ke pertumbuhan 5%,” kata Tim Asistensi Menko Perekonomian, Raden Pardede melalui konferensi video, Selasa (9/6).

Sebagaimana diketahui, pandemi corona telah membuat ekonomi Indonesia pada triwulan I 2020 hanya tumbuh 2,97% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dari triwulan IV 2019 sebesar 4,97% dan lebih rendah dari kuartal I 2019 sebesar 5,07%. Raden pun mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan jauh lebih rendah dari realisasi pertumbuhan pada triwulan I tahun ini. Bahkan dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II akan negatif. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa setidaknya butuh waktu lima tahun untuk memulihkan ekonomi RI dari dampak Covid-19.

“Saya bicara dengan World Bank di Washington, mereka menjelaskan dampak virus corona bisa sampai lima tahun baru income per kapita atau PDB suatu negara pulih kembali karena perekonomian global juga ikut terdampak,” kata Luhut dalam diskusi daring, Selasa (2/6).  Dengan tren perekonomian yang menjurus ke angka negatif itu, fase new normal mulai digembar-gemborkan pemerintah. Sembilan sektor perekonomian ditetapkan dibuka. Dibukanya sembilan sektor itu diharapkan bisa mempercepat recovery ekonomi yang babak belur dihajar Corona. Persoalannya, upaya membuka sembilan sektor ekonomi di tengah tren penularan virus Corona yang sampai sekarang terus menanjak tentu akan mendatangkan dua konsekuensi. 

Pertama, kalau mitigasi penularan berhasil dilakukan, pembukaan sembilan sektor ini akan menjadi daya ungkit perekonomian. Kedua, jika kondisi sebaliknya, kebijakan ini tentu akan menjadi pukulan telak. Bukan hanya semakin memperluas angka infeksi virus, tetapi juga bakal memukul perekonomian. Alhasil, waktu pemulihan ekonomi sudah pasti semakin lama.

“Kalau tidak dibarengi pengendalian wabah Covid, ya dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan optimal,” ujar Peneliti Ekonomi Senior IKS Eric Alexander Sugandi. Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan jangan terlalu optimis ekonomi nasional langsung membaik dengan kebijakan new normal yang baru saja dirilis pemerintah. Masalahnya, tingkat permintaan masih rendah karena daya beli masyarakat belum pulih di tengah pandemi virus corona.
Situasi ini akan membuat dampak pembukaan kembali ruang publik, seperti mal, tempat rekreasi, hingga kenaikan kapasitas maksimal transportasi publik tak akan signifikan. Jika demikian, roda perekonomian belum bisa bergerak seperti sebelumnya. “Kemauan orang melakukan konsumsi itu bergantung pada data kesehatan. Kalau angka penularan virus corona justru melonjak seperti beberapa hari terakhir ini, maka akan mempengaruhi kemampuan dan kerelaan orang untuk mengeluarkan uang,” ujar Fithra.

Kalau pemerintah tak hati-hati, kebijakan new normal justru bisa jadi bumerang tersendiri. Bukannya pulih, ekonomi justru akan semakin hancur karena kebijakan new normal dilakukan saat kurva penularan virus corona semakin meningkat. Fithra bilang kalau kurva penularan virus corona bisa mulai menurun secara konsisten pada Juli 2020, maka ada peluang ekonomi Indonesia tumbuh positif pada akhir tahun. Sebaliknya, ekonomi domestik berpotensi minus bila penularannya terus meningkat hingga September 2020. “Kalau penularan virus corona kembali meningkat tajam saat new normal, otomatis pemerintah akan melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lagi seperti kemarin-kemarin,” ungkap Fithra.
Jika pembatasan yang ketat kembali berlaku, aktivitas ekonomi otomatis akan redup seperti beberapa bulan terakhir. alhasil, ekonomi Indonesia berpotensi terkontraksi sepanjang semester II dan Indonesia resmi masuk ke jurang resesi. Di sisi lain, ekonomi Indonesia tetap akan positif di penghujung tahun ini kalau saat new normal semua berlangsung sesuai harapan. Artinya, peningkatan penularan virus corona mulai melambat dan jumlah pasien yang sembuh semakin meningkat. Fithra meyakini masyarakat akan kembali percaya diri untuk melakukan konsumsi jika peningkatan kasus positif corona mulai melambat. Efeknya, permintaan di pasar ikut meningkat dan kegiatan ekonomi kembali bergerak.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan keberhasilan kebijakan new normal amat bergantung dengan sikap disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan di ruang publik. Jika mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah, potensi penularan virus corona bisa ditekan dan ekonomi membaik.
Ia melihat pertumbuhan ekonomi masih akan terganggu hingga kuartal III 2020. Namun, situasi pada akhir tahun akan membaik bila jumlah peningkatan penularan virus corona melambat pada Juli 2020.
“Jumlah kasus corona akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan kegiatan di ruang publik. Kalau masih banyak yang takut keluar maka akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi,” terang Yusuf. (sumber:  https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200611093618-532-512069/potensi-resesi-di-depan-mata-penerapan-new-normal)
Jadi, kuncinya adalah bagaimana kurva penularan virus corona bisa semakin ditekan hingga awal kuartal III 2020. Bila berhasil, kepercayaan masyarakat dan investor akan tumbuh. Selain itu juga sikap disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan di ruang public pun juga akan menentukan keberhasilan dalam penerapan new normal sehingga akan cepat memperbaiki perekonomian akibat covid-19 ini.

Penulis :

Mufidah Nur Azizah, Universitas Muhammadiyah Malang