Unair akan Sempurnakan Uji Klinis Obat Covid-19

206

Surabaya,(harjatim)- Menyikapi hasil rapat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tim peneliti Unair akan menyempurnakan kombinasi obat Covid-19. Rektor Unair Prof. Moh. Nasih menyatakan bahwa tim peneliti akan segera melakukan evaluasi dan menyempurnakan uji klinis kombinasi obat Covid-19.

“Sebagaimana masukan dari BPOM. Untuk selanjutnya, tim peneliti juga menunggu dan akan mempelajari semua masukan tertulis dari BPOM,” kata Nasih, Kamis (20/8).

Ia menambahkan, untuk saat ini para ilmuwan yang ada dalam tim sangat terbuka untuk menerima masukan dari berbagai pihak. Hal itu diakuinya tidak lain demi penyempurnaan obat tersebut. “Harapan utamanya agar hasil dari kombinasi obat tersebut segera bisa membantu mereka para pasien yang saat ini sangat membutuhkan penanganan,” tandasnya

“Harapan utamanya agar hasil dari kombinasi obat COVID-19 tersebut segera bisa membantu mereka para pasien yang saat ini sangat membutuhkan penanganan,” ujar Nasih.

Selanjutnya, Prof Nasih juga menjelaskan bahwa niatan tim peneliti semata-mata didasari rasa kemanusiaan untuk menolong pasien COVID-19 yang sangat membutuhkan perawatan dan pengobatan.

Ikhtiar yang dilakukan bersama dengan banyak pihak tersebut diharapkan bisa memberi jalan keluar bagi bangsa Indonesia untuk bersama-sama menghadapi pandemi COVID-19. “Dengan masukan BPOM, tim peneliti Unair segera mengambil langkah cepat untuk menyempurnakan uji klinis,” tuturnya.

Sebelumnya, BPOM sudah melakukan inspeksi pertama terkait uji klinis obat Covid-19. Obat tersebut hasil penelitian Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara, Polri, dan TNI AD. Kepala Badan POM Penny K Lukito mengatakan pihaknya menemukan hasil uji klinis obat tersebut belum valid.

“Status yang kami nilai adalah masih belum valid, jika dikaitkan dengan hasil inspeksi kami,” kata Penny dalam siaran teleconference, Rabu (19/8).

Penny mengatakan pihaknya memiliki koreksi terhadap uji klinis tersebut. Pertama obat tersebut belum bisa merepresentasikan populasi. Menurut dia, suatu penelitian harus dilakukan secara acak sehingga bisa mewakili masyarakat Indonesia.

“Jadi dari pasien sebagai subjek yang dipilih menunjukan sampel acak seperti protokol yang ada. Misalnya variasi demografi dari derajat keparahan, sakitnya kan derajat ringan, sedang, parah tapi subjek dengan obat uji ini tidak merepresentasikan keberagaman atau acak itu validitas suatu riset,” ungkap Penny.

Selain itu, BPOM juga menemukan dalam uji klinis tersebut orang tanpa gejala (OTG) diberikan obat terapi. Padahal, kata Penny, dalam protokol penelitian OTG tidak perlu diberikan terapi obat.

“Padahal OTG tidak perlu diberikan obat. Karena dalam protokol bukan OTG kita mengarah penyakit ringan, sedang dan berat,” jelas Penny.

Selanjutnya, lanjut Penny, dalam uji klinis tersebut harus memiliki representasi. Namun saat ini, hasil uji klinis tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan jika dibandingkan dengan terapi standar.

“Jika penelitian harus menunjukkan satu riset ada menunjukkan suatu yang interfensi baru tersebut memberikan hasil yang cukup signifikan dibandingkan terapi standar, asitomisin itu tidak signifikan terlalu besar. Jadi perlu ditindaklanjuti lagi,” ungkap Penny.(me/wan/an)