Proyek Pemeliharaan Rutin Jalan Cerme Lor – Pundut Trate Rawan ‘Kebocoran’ Anggaran

Penawaran 'Terjun Bebas', Pelaksanaan Diduga Menyimpang

214

Gresik (Harjatim) – Pengerjaan proyek Pemeliharaan Rutin Jalan Cerme Lor – Pundut Trate dengan pagu anggaran Rp 1,3 miliar melalui APBD Pemkab Gresik tahun anggaran 2020 dinilai rawan ‘kebocoran’ anggaran. Pasalnya CV. Sumber Rejeki sebagai pemenang tender sekaligus pelaksana proyek dengan nilai kontrak Rp 782.939.907,40 diduga mengabaikan metode pelaksanaan yang disyaratkan. Sehingga berdampak rendahnya kualitas hasil pekerjaan. Yang mengakibatkan umur konstruksi dan azas manfaat bangunan itu terancam tidak sesuai perencanaan.

Dugaan penyimpangan metode pelaksanaan ini diantaranya mulai item pengerjaan Cement Treated Base (CTB), hamparan pasir hingga lapis pondasi sirtu, CBR 35 persen.

Pantauan harianjawatimur.com daya ikat material CTB tidak sempurna. Hal ini diduga kontraktor tidak mematuhi metode pelaksanaan yang disyaratkan dalam divisi 5 (spesifikasi umum 2018). Kanstin sebagai pengunci pasangan paving terlihat banyak yang ambrol dan amblas.Hamparan pasir perata setelah item pekerjaan CTB disebagian titik pekerjaan diduga tidak dilakukan.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Gresik, Dhiannita Triastuti melalui Kepala Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan, Femmy Husada mengungkapkan pihaknya akan chroschek ke lokasi pekerjaan. Untuk melakukan pemeriksaan secara teliti.

” Jika tidak sesuai kontraktor akan kita suruh untuk bongkar pekerjaan. Jika tidak mau tidak akan kita bayar,” kata Femmy Husada di kantornya, Selasa (20/10).

Femmy menjelaskan progres pekerjaan proyek tersebut hingga saat ini sudah mencapai sekitar 87 persen. Sementara anggaran yang terserap masih mencapai sekitar 40 persen dari nilai kontrak.

” Kontrak kita harga satuan. Kita hanya membayar item pekerjaan yang sudah dikerjakan,” jelasnya.

Disinggung mengenai item pekerjaan CTB yang kurang sempurna dan pasangan kanstin yang ambrol dan amblas. Femmy tidak menampik.

Menurutnya tidak kuatnya pasangan kanstin sebelah barat karena tidak adanya penompang timbunan pada berem jalan. Sementara pekerjaan harus mengikuti elevasi yang direncanakan.

” Karena itu kontraktor mengajukan addendum pada kegiatan tersebut. Addendumnya sebesar 10 persen dari nilai kontrak. Penambahan pekerjaan ini diperuntukan sebagai TPT ( Tembok Penahan Tanah),” jelas Femmy.

Femmy menyatakan proyek itu belum selesai. Jika terjadi ketidaksesuaian pekerjaan. Masih menjadi tanggungjawab kontraktor.

” Kita akan lebih cermat dan teliti terkait paket pekerjaan itu,” tandasnya.

Penawaran ‘ Terjun Bebas’

Sementara menanggapi temuan ini, Andik Winarto  salah satu pemerhati konstruksi di Gresik mengungkapkan penawaran pemenang tender pada proyek itu dianggap ‘terjun bebas’.

Rendahnya nilai penurunan penawaran itu mencapai 40 persen dari nilai pagu anggaran.
” Bisa jadi rendahnya nilai penawaran berdampak terhadap rendahnya kualitas pekerjaan,” katanya.

Pada paket pekerjaan Pemeliharaan Rutin Jalan Cerme Lor – Pundut Trate lanjut Andik perlu mendapatkan penanganan ‘ektra ketat’.

” Kinerja pengawasan dipertaruhkan. Agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai kontrak,” lanjut Andik.

Menurutnya memenangkan penawaran terendah ada keuntungan bagi Negara. Sebab selisih antara pagu anggaran yang disiapkan pemerintah dengan penawaran yang diajukan kontraktor dikembalikan ke kas Negara.

” Namun bisa jadi penawaran rendah belum tentu Negara diuntungkan. Karena rendahnya penawaran bisa jadi berpengaruh ke hasil kualitas pekerjaan proyek. Sehingga Negara bisa dirugikan lagi dengan besarnya biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan selanjutnya,” papar Andik.

Ia mencontohkan sebuah proyek yang didesain hingga 15 tahun tetapi karena penawaran ‘terjun bebas’ hasil kualitas pekerjaan bisa jadi berkurang. Sehingga umur bangunan hanya bertahan 5 tahun.

” Pemeliharaan akan menyedot biaya yang lebih besar lagi. Rencana awal biaya pemeliharaan yang direncanakan 15 tahun, kini jadi 5 tahun harus keluar biaya pemeliharaan. Bahkan bisa setiap tahun,” katanya.

Persoalan lain yang muncul terjadi persaingan yang tidak sehat. Demi memenangkan tender kontraktor berlomba-lomba mengajukan penawaran rendah. Meskipun mereka sadar bahwa mereka sedang ‘bunuh diri’.

” Dapat pekerjaan. Tapi jika nantinya hanya untuk rugi. Kenapa dilakukan,” pungkas pria berambut gondrong ini. (awe)