Kades Jogodalu Dianggap Pembohong

Tarso Sagito Tantang Buka-bukaan Batas Tanah

737

Gresik (Harjatim)- Pernyataan Kades Jogodalu, Juwaiminingsih yang ‘menuding’ lahan milik Tarso Sagito (TR) yang berada di sepanjang Jalan Dusun Gempol Desa Jogodalu Kecamatan Benjeng telah menyerobot batas tanah desa sepanjang 1,5 meter seperti dilansir laman ankasapost.com tayang 26 Oktober 2020 lalu dianggap berita bohong. Sebagai pejabat publik, Juwaiminingsih dianggap melakukan pembohongan publik.

Menurut Tarso Sagito sebelum pengerjaan proyek dia belum pernah mendapatkan surat undangan perihal akan dilaksanakannya proyek Tembok Penahan Tanah (TPT) di Dusun Gempol. Hingga adanya sebuah pertemuan antara dirinya dengan pihak desa terkait rencana pengerjaan proyek itu.

” Malah ini menyebut sudah mempertemukan kita dan telah membuka kretek batas desa. Apalagi dalam peryataan itu (ankasapost.com Red), diungkapkan tanah saya telah menyerobot batas tanah desa. Ini berita bohong,” kata Tarso Sagito, Kamis (29/10).

Padahal lanjut Tarso sebenarnya tanah desa yang telah menyerobot tanah miliknya. Dia meminta demi sebuah fakta dan kebenaran, meminta pihak desa buka-bukaan buku kretek batas tanah.

” Biar nanti diukur BPN (Badan Pertanahan Nasional Red). Jika nanti dalam pengukuran terbukti klaim batas tanah desa seperti yang diungkapkan Kades Jogodalu justru menyerobot tanah saya. Kades akan saya pidanakan. Saya tidak mau meminta ganti rugi,” tandasnya.

Tarso sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan persoalan ini. Jika toh nanti tanahnya yang justru diserobot desa. Masalahnya dipergunakan untuk kepentingan umum. Namun cara Kades Jogodalu dianggap kurang tepat.

” Jika tanah saya digunakan sebagai kepentingan umum. Harusnya saya dapat ganti rugi. Tapi disini kita tidak terlalu mempersoalkan. Lebih jelasnya diukur saja tanahnya. Biar tau lebar jalan tersebut sebenarnya berapa,”ujarnya.

Pria yang menjabat Kepala BPBD Kab.Gresik ini kemudian bercerita. Dulu saluran di sepanjang jalan yang tergarap proyek TPT itu bisa ada karena inisiatif dari para pemilik lahan. Supaya lahan persawahan maupun tambak bisa produktif. Bukan peranan pemerintah pada saat itu.

” Dulu jalan Dusun Gempol sempit. Tidak seperti saat ini. Waktu itu era kepemimpinan Kades Mukrom. Akhirnya saya dan para pemilik lahan di sepanjang jalan itu (Gempol Red) berinisiatif memberikan sebagian lahannya untuk kepentingan umum. Berupa saluran air. Agar lahan dapat produktif,” terangnya.

Pembuatan TPT juga dinilai enaknya. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada para pemilik lahan yang ada di sepanjang proyek TPT itu.

” Harusnya ada minimal pemberitahuan sebelum proyek itu dikerjakan. Jangan senaknya sendiri. Lagian di sepanjang proyek TPT itu juga terdapat tanah warga lainnya. Tapi yang dipersoalkan dan dibicarakan Kades hanya tanah saya,” tandasnya.

Ia juga menyayangkan sikap Kades Jogodalu yang dianggap kurang tepat. Dalam menyelesaikan persoalan. ” Sebagai pejabat publik harusnya lebih cermat dan teliti lagi dalam bersikap dan bertindak. Apalagi sampai memberikan keterangan bohong kepada media massa,” pungkas pria kelahiran Desa Banter ini.

Lahan berupa persawaan milik Tarso Sagito yang berada di Dusun Gempol memiliki muka lahan sepanjang 200 meter. Rinciannya sekitar 100 meter masuk wilayah Desa Jogodalu sisanya masuk wilayah Desa Banter. Lahan tersebut terletak di sebalah timur Jalan Dusun Gempol.

Sementara hingga berita ini ditayangkan, Kades Jogodalu, Juwaiminingsih yang hendak di konfirmasi lanjutan belum bisa ditemui. Melalui sambungan telepon maupun chat via WhatsApp tidak ada jawaban. (awe)