Material Proyek Menumpuk di Sungai, Perparah Banjir di Kemudi

Kontraktor Belum Rekondisi, Kerugian Capai Rp 1 M

257

Gresik (Harjatim) – Material proyek berupa limestone bekas lantai kerja mobil crane untuk pemasangan balok girder pembangunan Jembatan Kemudi tahap 3 yang dilaksanakan CV.Enam Thobiat Luhur masih terlihat menumpuk menutupi seperempat sungai di Desa Kemudi Kecamatan Duduksampeyan.

Kontraktor pemenang tender dengan nilai kontrak Rp 1.722.669.738, 13 APBD Pemkab Gresik tahun anggaran 2020 belum melakukan pembersihan tumpukan material usai pelaksanaan proyek. Padahal selain disebabkan curah hujan tinggi, tumpukan material tersebut ditenggarai memperparah kondisi banjir di anak sungai Bengawan Solo yang sedang melanda desa setempat. Aliran air menuju laut terhambat.

Menanggapi ini Kabid Bina Marga DPUTR Pemkab Gresik, Dhiannita Triastuti enggan memberikan keterangan secara detail terkait pembangunan proyek tersebut. Namun, dia bakal segera menganalisa dan kordinasi dengan pihak terkait. ” Segera kami bicarakan dan dianalisa,” jawab Dhiannita melalui pesan WhatsApp, Kamis (14/01/21).

Ia juga beranggapan sebelum pelaksanaan proyek tersebut kondisi debit air di Sungai Kemudi sudah tinggi. ” Sebelum pelaksanaan kondisi air peres jalan,” tambahnya.

Selama 20 Tahun Baru Kali Ini Dilanda Banjir

– Sementara Kades Kemudi, M.Lazin mengungkapkan selama kurun 20 tahun baru kali ini Desa Kemudi terjadi banjir. Air dari sungai meluber ke jalan desa hingga permukiman warga. Banjir tersebut biasanya terjadi mulai pukul 20.00 WIB kemudian surut pukul 02.00 WIB.

” Sudah empat hari terjadi banjir. Air dari sungai meluber masuk ke permukiman warga biasanya malam hari,” kata Lazin, Kamis (14/1/21).

Lazin mengungkapkan selama kurun 20 tahun baru kali ini luberan sungai masuk ke permukiman warga. Ketinggian air di permukiman warga berkisar 30 Cm hingga 40 Cm. Penyebabnya selain curah hujan tinggi dan rob (naiknya permukaan air laut). Tumpukan material bekas proyek di sungai kian memperparah keadaan.

” Tumpukan material proyek sebabkan aliran air menuju laut terhambat. Begitu juga luberan sungai yang masuk ke permukiman warga, surutnya jadi lama,” tandasnya.

Akibat melubernya air sungai lanjut Lazin petani tambak mengalami gagal panen. ” Kerugian petani tambak akibat melubernya air sungai ditaksir mencapai Rp 1 miliar,” lanjutnya.

Dia mengaku sudah memberitahu pihak DPUTR, begitu juga pelaksana proyek agar membersihkan tumpukan material di sungai sebelum terjadi banjir. Namun sampai sekarang belum ada tindakan.

” Kita berharap agar tidak memperparah keadaan. Tumpukan material bekas proyek segera dibersihkan oleh pihak yang bertanggungjawab terhadap kegiatan itu,” harap Lazin. (awe)