Diduga Pembangunan Kerangka Plafon Lantai 2 GMSC Fiktif

60

Mojokerto (harjatim) – Upaya Komisi II DPRD menguak penyebab runtuhnya plafon lantai satu Graha Mojokerto Service City (GMSC) justru dapat menguak berbagai kecurangan dalam pembangunan GMSC. Mencermati keterangan para konsultan pengawas saat hearing pada Jumat (15/1/2021), patut diduga pembangunan kerangka plafon lantai 2 fiktif.

Tatkala diberi kesempatan oleh Ketua Komisi II M Rizky Fauzi Pancasilawan untuk menjelaskan, konsultan pengawas pembangunan plafon GMSC tahun 2016, Agus Toha menjelaskan, pihaknya merupakan pengawas pembangunan kerangka plafon lantai satu dan dua. “Hanya kerangka plafon,” tandasnya.

Pengerjaan kerangka plafon dikerjakan PT Mustika Sida Karya pada tahun 2016. Setelah kerangka plafon selesai, kerangka plafon ditutup oleh PT Aditek Indo Perkasa pada tahun 2017 . “Setelah itu ada pekerjaan lain-lain seperti mekanikel, elektrikel, pemasangan AC, dan lain-lain,” ujar Agus Toha.

Namun keterangan Agus Toha tersebut berbeda dengan keterangan dari perwakilan PT Astra Kencana, Budi, selaku konsultan pengawas pekerjaan tahun 2017. Budi mengungkapkan jika awal pengerjaan memusingkan untuk mengukur volumenya karena di lantai satu sudah ada kerangka plafon. Padahal di dalam RAB tidak ada pemasangan kerangka plafon. “Yang ada kerangka plafonnya hanya lantai satu,” tandasnya.

Menurutnya, logikanya pemasangan kerangka plafon setelah barang-barang di atas plafon seperti mekanikel dan elektrikel sudah terpasang. “Pemasangan plafon pun seharusnya tidak ada rangkanya. Terlebih lagi rangka yang sudah terpasang bentuknya flat (rata) sedang plafonnya bentuknya ornamen,” ungkapnya.

Terpisah Ketua LSM Pemuda Garuda Bersatu (PGB) Mustofa mengatakan, keterangan dari dua konsultan pengawas bertolak belakang. “Agus Toha mengaku jika pihaknya sebagai konsultan pengawas pembangunan kerangka lantai satu dan dua pada tahun 2016. Sedang Budi yang menjadi konsultan tahun 2017 mengungkapkan jika yang ada kerang plafonnya hanya lantai satu,” katanya.

Mustofa mencurigai jika pembangunan kerangka plafon lantai dua hanya fiktif belaka. “Mencermati keterangan dua konsultan pengawas tersebut, patut diduga jika pembangunan kerangka plafon yang di lantai dua fiktif. Apalagi Budi mengatakan jika di dalam RAB-nya tidak ada kerangka plafon,” katanya.

Untuk itu dia berharap supaya pihak-pihak terkait seperti kejaksaaan, kepolisian, DPRD, dan Dinas PU saling berkerja sama untuk mengungkapkannya. “Kalau benar ini fiktif, tentunya pelanggaran hukum,” pungkasnya.yus