Tumpukan Material Proyek Sungai Kemudi Dibersihkan, Anggaran Ditanggung DPUTR

Dua Tahap Pembangunan Pengadaan Urugan Tak Masuk RAB, Patut Dipertanyakan

159

Gresik (Harjatim) – Tumpukan material proyek berupa limestone yang menutupi seperempat Sungai Kemudi akhirnya dibersihkan DPUTR Pemkab Gresik, Bidang Bina Marga. Anggaran pembersihan tumpukan material imbas pelaksanaan pembangunan Jembatan tahap 3 yang digarap CV.Enam Thobiat Luhur dengan nilai kontrak Rp 1.722.669.738, 13 APBD Pemkab Gresik tahun anggaran 2020 itu ditanggung DPUTR. Bukan kontraktor pemenang tender.

DPUTR berdalih pengadaan urugan limestone tidak masuk dalam rencana anggaran biaya (RAB). Meski dalam pelaksanaan pekerjaan semestinya membutuhkan urugan sebagai lantai kerja mobil crane untuk memasang balok girder jembatan.

Sumber yang berhasil ditemui mengungkapkan tidak tercantumnya item pengadaan limestone sebagai lantai kerja tidak hanya terjadi pada pembangunan tahap 3, Tahun 2020. Tapi juga terjadi pada pembangunan jembatan tahap 2, Tahun 2019. Pada tahap 2, pemenang tender terpaksa mendatangkan ratusan kubik limestone demi menyelesaikan pekerjaanya. Meski pengadaan material itu tidak masuk RAB.

” Pemenang tender Tahun 2020 dalam pembuatan lantai kerja memakai limestone yang telah didatangkan pemenang tender tahun sebelumnya. Padahal tanpa urugan sebagai pijakan lantai kerja mobil crane sangat sulit dalam menyelesaikan pekerjaan,” kata sumber sambil mewanti-wanti agar namanya tidak dipublikasikan.

” Jadi CV.Enam Thobiat Luhur dalam pelaksanaan memakai limestone bekas proyek tahun sebelumnya. Limestone sudah ready di lokasi proyek. Dia (CV.Enam Thobiat Luhur) hanya mengoper limestone, dari titik A ke titik B area kerjanya saja,” tambahnya.

Ia menyayangkan meski CV.Enam Thobiat Luhur sudah diberikan kelonggaran memakai limestone bekas pengadaan pemenang tender sebelumnya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pekerjaan rekondisi tidak lakukan. Berdalih tidak masuk RAB, kini malah anggaran rekondisi ditanggung DPUTR. APBD Pemkab Gresik tersedot lagi.

” Semestinya CV.Enam Thobiat Luhur bertanggungjawab dalam pembersihan area pekerjaan usai pelaksanaan pekerjaanya. Tidak ditinggal begitu saja, sehingga memperparah banjir di Desa Kemudi. Kalau sudah begini kerugian petani tambak siapa yang bertanggungjawab,”tandasnya.

Sumber juga mempertanyakan selama 2 tahun pelaksanaan pekerjaan pembangunan Jembatan Kemudi item pengadaan urugan sebagai lantai kerja alat berat tidak tercantum. Padahal item pekerjaan tersebut menjadi salah satu item teknis pekerjaan dalam menyelesaikan pekerjaan.

” Patut dipertanyakan. Bisa jadi ada permainan dalam pengelolaan anggaran,” tutup sumber.

Bukan Tanggungjawab Kontraktor

– Sementara menanggapi persoalan ini Kabid Bina Marga, DPUTR Pemkab Gresik, Dhiannita Triastuti mengaku pengadaan urugan tidak masuk dalam kontrak.

” Bukan tanggungjawab kontraktor, Pak. Karena memang tidak kita bayar,” jelas Dhiannita.

Menurutnya material proyek yang menutupi seperempat Sungai Kemudi itu rencananya akan digunakan untuk oprit jembatan.

” Namun karena terkendala efisiensi anggaran, pekerjaan itu pelaksanaanya diundur,” tambahnya.

Karena terjadi banjir di Desa Kemudi lanjut Dhiannita pihaknya bakal membersihkan tumpukan material yang menghambat arus air sungai.

” Segera kita angkat materialnya,” tutupnya.

Namun disinggung mengenai anggaran yang dipakai dalam pembersihan tumpukan material proyek yang ada di Sungai Kemudi, Dhiannita enggan menjawab.

Sementara hari ini Selasa ( 19/1/2021) excavator terlihat sudah mulai membersihkan tumpukan material proyek yang menutupi seperempat Sungai Kemudi.

” Mulai kita bersihkan. Sesuai tupoksi kita,” ujar Kepala URC Kabupaten Gresik, Samsul Bakri.

Menurutnya pelaksanaan pembersihan tumpukan material dilakukan secara swakelola.
” Kalau URC yang ngerjakan, pelaksanaanya swakelola,” tambahnya.

Samsul sendiri enggan membeber anggaran yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.

” Pekerjaanya masih berjalan. Nanti setelah selesai baru tau habis anggaran berapa,” ujarnya.

Sementara menanggapi persolan ini pelaksana CV.Enam Thobiat Luhur enggan memberikan keterangan. Dihubungi via cellularnya tidak ada jawaban.

Diberitakan sebelumnya material proyek berupa limestone bekas lantai kerja mobil crane untuk pemasangan balok girder pembangunan Jembatan Kemudi tahap 3 yang dilaksanakan CV.Enam Thobiat Luhur masih terlihat menumpuk menutupi seperempat sungai di Desa Kemudi Kecamatan Duduksampeyan. Tumpukan material tersebut ditenggarai memperparah kondisi banjir di desa setempat. (awe)