Menelusuri “hubungan asmara” ASN di Dinsos Gresik, SLY dengan Pengusaha LS

Cinta dan Pekerjaan hingga Penyaluran BPNT

338

– Cinta itu buta.Gak Minggir Tabrak…Kasak kusuk “hubungan asmara” seorang aparatur sipil negara (ASN) golongan III/D berpangkat Penata Tk.1 pegawai di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gresik berinisial SLY dengan pengusaha penggilingan padi berinisial LS (38) kian santer.

Kabar yang berhembus hubungan mereka kini ‘naik level’ nikah siri. Cinta mereka juga diduga merembet ke penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gresik.

Gresik (harjatim) – Posisi mereka berdua yang “menguntungkan” dan “memungkinkan” menjalankan praktek ‘simbiosis mutualisme’ bisnis penyaluran BPNT bisa jadi awal dugaan ‘buah cinta’ SLY dan LS.

SLY laki-laki paruh baya salah satu pejabat berpengaruh di Dinsos Gresik yang masih berstatus suami orang ‘bermain asmara’ dengan LS yang berstatus janda. Informasinya ‘Hubungan lengket’ keduanya beredar sejak tahun 2018 lalu.

Disaat LS masih istri sahnya ACH (Inisial).
Akibat hubungan SLY dengan LS yang dianggap melebihi batas normal. Diduga sebagai salah satu pemicu retaknya rumah tangga ACH dan LS. Meski buah rumah tangga ACH dan LS dikaruniai 4 buah hati. Mereka berdua memilih ‘pisah jalan’, cerai.

Setelahnya hubungan LS dan SLY kian “intim”. Meski masih sah sebagai suami FIT (inisial) dan dikaruniai 3 orang anak, SLY hingga kini (tahun 2021) masih ‘nekat’ menjalin ‘hubungan asmara’ dengan LS. Demi ‘kedoknya’ tak terbongkar dan mempertahankan hubungan keduanya SLY berusaha mengatur waktu. Dia harus pulang ke daerah Lamongan dan sesekali ke Gresik sambang pujaan hatinya.

LS ketika diklarifikasi terkait kabar yang berhembus tidak menampik kalau dia kenal dengan SLY. Menurutnya perkenalan dirinya dengan SLY dikenalkan oleh suaminya (ACH).

” Suami yang ngenalkan. Waktu itu saya ada urusan tanah di Desa Banjarwati. Kebetulan daerah tersebut dekat dengan kediamannya pak SLY. Jadi kita meminta tolong pak SLY untuk membantu menyelesaikan proses persoalannya,” ujarnya.

Namun ketika disinggung mengenai hubungan asmaranya dengan SLY dia menampik. ” Hanya kenal tidak ada hubungan asmara,” tampik LS.

Mengenai foto LS dengan SLY bergandengan tangan “tampak mesra” LS tidak menampik.

” Memang benar itu foto saya dan SLY. Foto itu tidak editan. Tapi itu saya anggap wajar.Hubungan dengan SLY. Hanya hubungan biasa, teman ngobrol,” jelasnya.

Menurutnya foto semacam itu tidak hanya dengan SLY saja. ” Masih banyak foto-foto yang seperti itu. Bahkan bukan hanya dengan SLY. Ada dengan hakim hingga pengacara,” lanjutnya.

Sementara SLY ketika hendak dikonfirmasi dikantornya terkait persoalan ini memilih lari meninggalkan wartawan. Dengan tergesa-gesa keluar dari ruangannya di lantai 2 gedung Dinsos Gresik.

” Tidak ada hubungan mas dengan LS. Saya mau rapat,”kata SLY singkat sambil menuruni anak tangga tergesa-gesa kemudian menuju mobil pribadinyal.

Sementara Kadinsos Gresik, Sentot Supriyohadi menanggapi kabar bawahaanya “bermain asmara” dengan pengusaha LS. Memilihi tidak memberi jawaban secara pasti. ” Ya sempat dengar kasak kusuk itu (hubungan SLY dan LS). Namun itu persoalan pribadi. Saya serahkan ke masing-masing pribadi,” tandas Sentot ketika ditemui diruangannya.

Pengusaha LS “Kuasai” Distribusi Beras ke Sejumlah Agen

-Informasi yang berhasil dihimpun selain menjadi agen e-Warung BPNT pengusaha LS juga menjadi suplier “besar” komoditi beras ke sejumlah agen e-Warung di wilayah Kecamatan Benjeng, Cerme, Menganti hingga Wringinanom.

Pengaruh SLY yang begitu besar dalam program BPNT seolah ‘memberi jalan’ bagi LS untuk menjalankan bisnis penyaluran BPNT. Tak sedikit suplier lainya jika ingin mensuplai komiditi BPNT ke agen e-Warong terpaksa ‘gigit jari’ jika tidak melalui LS. Terutama komoditi beras.

Padahal LS kabarnya baru mempunyai tempat usaha penggilingan padi tahun 2020. Dengan nama usaha dagang (UD) SM (inisial). Sebelumnya LS diduga sebagai ‘makelar’ suplier beras ke sejumlah agen e-Warung BPNT di Gresik. Akibat “ulah makelar” diduga sebagai pemicu margin harga pendistribusian beras.

Informasi yang berhasil dihimpun untuk memenuhi suplai beras ke agen e-Warung dibawah naunggannya LS bekerjasama dengan sejumlah rekanan pengusaha penggilingan padi. Modusnya dia pesan beras ke sejumlah tempat penggilingan padi itu, kemudian diberikan merek dagang sesuai prodak dari usaha dagangnya.

Menanggapi ini LS menampik jika dirinya mengusai penyaluran beras BPNT di Gresik. ” Tidak benar mas. Penyaluran kita hanya ke beberapa agen e-Warung. Termasuk di Cerme, Benjeng dan Menganti. Sebagian besar kita pasarkan ke daerah Madura,” kilah LS.

Sementara disinggung mengenai agen e-Warung miliknya yang beralamat di Manyar namun menyalurkan beras BPNT di para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di wilayah Benjeng. LS menyatakan tidak ada masalah.

” Tidak ada regulasi yang pasti menyatakan itu tidak boleh. Yang diatur hanya jumlah KPM per agen,” ujarnya.

Mengenai kediaman LS yang diduga tidak memenuhi syarat sebagai agen e-warung. LS berkilah sudah menyewa toko ditetangga desa. ” Setiap penyaluran bantuan BPNT ke KPM di toko saya. Bukan di rumah ini. Jadi tidak ada masalah,” pungkasnya. ***(awe)