Saman Terjerat “Rentenir Kelas Kakap”

Sertifikat Rumah 'Ditahan', Pinjam Uang Rp 6 Juta Ditagih Rp 39 Juta

253

Gresik (Harjatim) – Saman (69) warga Dusun Metatu Desa Metatu Kecamatan Benjeng mengalami nasib tragis setelah terjerat “rentenir”. Untuk menebus sertifikat rumah, keluarga tersebut diminta membayar senilai Rp 39 juta dari pinjaman senilai Rp 6 juta.

Pristiwa berawal ketika Saman meminjam uang kepada seorang laki-laki bernama H.Yanto warga Cerme Lor Kecamatan Cerme senilai Rp 6 juta pada tanggal 14 Agustus tahun 2016 dengan jaminan surat sertifikat rumah untuk keperluan berobat. Ketika Saman hendak melunasi hutang dengan harapan sertifikat rumah dikembalikan.

Saman diminta Yanto untuk membayar Rp 39 juta. Dengan dalih perhitungan bunga Rp 600 ribu setiap bulan (10 persen per bulan). Bunga setiap bulan Rp 600 ribu dikalikan 56 bulan. Terhitung sejumlah Rp 33.600.000. Ditambah hutang pokok sejumlah Rp 6 juta. Total Rp 39.600.000.

Melihat klaim pembayaran hutang yang ditujukan kepadanya, Saman ‘kelimpungan’. Keinginan memiliki rasa nyaman dan ketenangan di tempat tinggalnya ‘sirna’. Rasa was-was terus membayanginya.

Jalan satu-satunya, dia terpaksa harus berhutang lagi demi menyelesaikan tanggungannya. Akhirnya Saman mampu mengumpulkan Rp 15 juta. Kemudian sejumlah uang yang terkumpul diajukan ke Yanto.

” Pengajuan sejumlah uang Rp 15 juta ke Yanto tetap ditolak. Maunya tetap meminta Rp 39 juta.
Dengan perhitungan bunga dan hutang pokok,” ujarnya sambil tertatih-tatih.

Disinggung mengenai surat perjanjian hutang dengan jaminan sertifikat, Saman mengaku tidak ada perjanjian secara tertulis.

” Tidak ada perjanjian secara tertulis. Hutang uang, dengan jaminan sertifikat,” tambahnya.

Dia kini mengaku pasrah dengan kondisi yang dialaminya. ” Saya sudah beritikad baik ingin menyelesaikannya. Adanya uang segini (Rp 15 juta red), ini pun harus didapatkan dari hutang. Jika harus membayar sejumlah tagihan yang diklaim mencapai Rp 39 juta. Saya harus mencari kemana. Tidak sanggup lagi,” aku Saman.

Dia berharap kejadian yang dialaminya dapat memberikan suatu pelajaran kepada khalayak umum. Untuk lebih berhati-hati dalam meminjam uang dengan jaminan sertifikat terutama ke perorangan yang bukan lembaga resmi penyaluran kredit.

” Urusannya ribet. Belum lagi besarannya bunga. Mencekik leher. Sisi kemanusiaan seperti tidak diperhatikan sama sekali,”keluhnya.

Pada kesempatan itu, Saman yang mendelegasikan persoalan tersebut kepada ROK (inisial) untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Tetap mentah. Sejumlah uang seniali Rp 15 juta ke Yanto tidak digubris. Beberapa kali melakukan negosiasi tetap mentah.

” Sertifikatnya tetap tidak dikasihkan. Dia (Yanto red) bersikukuh dengan klaim tagiannya. Namun selama ini dia tidak mau menunjukan sertifikat tersebut. Dia berdalih sertifikat itu dipegang oleh bos nya di Surabaya. Namun jika diajak ke Surabaya seperti yang diutarakan Yanto. Dia selalu mengelak dengan segala macam alasan,” ujarnya.

Sementara menanggapi sejumlah klaim tagihan hutang yang dialamatkan kepada Saman, Yanto tidak menampik. Menurutnya tagian hutang yang harus dibayar Saman senilai Rp 39.600.000.

” Tagian sejumlah itu ( Rp 39.600.000 red), termasuk bunga dan hutang pokok. Hutang pokoknya Rp 6 juta,” terang Yanto di ruko miliknya di Desa Betiting, Sabtu (6/3/2021).

Disinggung mengenai adanya surat perjanjian hutang Yanto menyatakan tidak ada.
” Adanya kwitansi. Biasanya cuma itu waktu kita bertransaksi penyaluran pinjaman,” terangnya.

Namun ketika disinggung soal solusi penyelesaian persoalan ini Yanto yang merupakan warga Ceme Lor ini enggan memutuskan secara gamblang. Dia berkilah hanya sebagai pelantara penyaluran pinjaman.

” Nanti saya omongkan ke bos. Orangnya ada di Surabaya. Saya sudah berhenti menjadi penyalur pinjaman semenjak saya naik haji,” kilahnya.

” Biasanya yang datang kesini, bisa jadi masih merupakan tanggungan saya waktu saya dulu beraktivitas sebagai penyalur pinjaman. Jadi saya hanya bisa bantu menyampaikan ke bos. Soal keputusan bos yang menentukan,” tambahnya.

“Usaha Bodong, Yanto Dikenal Sebagai Bos Penyaluran Kredit”

– Sementara informasi yang berhasil harianjawatimur.com dihimpun di lingkungan sekitar H. Yanto dikenal sebagai bos penyaluran kredit perorangan dengan jaminan sertifikat. Meski tak berbadan hukum dalam penyaluran kredit. Selama ini ‘langkah’ Yanto terbilang mulus.

Saman bisa jadi hanya merupakan salah satu “korban” saja. Kabarnya modus yang dijalankan dalam penyaluran kredit. Pihak penyalur kredit jarang menagih ke kreditur. Namun setelah sekian lama. Perhitungan bunga yang dirasa sudah melambung tinggi. Barulah pihak penyalur kredit membuat ‘perhitungan’ dengan peminjam hutang.
Bahkan kabarnya ada kreditur yang terpaksa merelahkan tempat tinggalnya beralih nama ke penyalur kredit. Imbas tak sanggup melunasi hutang. Karena tingginya bunga pinjaman yang diterapkan.

“Nasabah” Yanto kabarnya tersebar di daerah Kecamatan Cerme, diantaranya di Desa Iker-Iker Geger, Betiting, Ngabetan, Cerme Lor, Lengkong. Sementara di Kecamatan Benjeng tersebar di Desa Kedungsekar dan Metatu. Menanggapi ini, Yanto mengelak menurutnya dia hanya sebagai pelantara penyaluran kredit jaminan sertifikat.

” Dulu memang iya. Tapi kini sudah berhenti. Itu merupakan urusan yang lama,” elak Yanto.*** (awe)