Kasal sebut Gandeng SKK Migas Angkat KRI Nanggala-402

18

Sidoarjo, (HARJATIM) -Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan Mabes TNI berencana menggandeng Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk membantu mengangkat potongan badan kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali.

“Sampai dengan saat ini posisi kapal masih tetap belum bergeser,” kata Kasal Yudo Margono usai mengunjungi rumah salah satu kru KRI Nanggala-402 yakni Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Kolonel (P) Harry Setiawan, di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa.27/4

Ia mengemukakan pihaknya juga melakukan pengamanan di lokasi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala dengan menyiagakan petugas di lokasi.

“Ke depan kami ajukan untuk dilakukan pengangkatan dan kami sudah koordinasi dengan SKK Migas karena mereka yang memiliki kemampuan untuk mengangkat kapal tersebut,” ujarnya pula.

Kasal mengatakan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian, dan petugas aslog juga sudah menghubungi SKK Migas supaya kapalnya bisa segera diangkat.

“Minta doanya saja supaya kapalnya bisa segera diangkat. Saat ini masih rapat dan dihitung berapa beratnya, dari gambar-gambar tersebut,” ujarnya lagi.

Disinggung terkait dengan kondisi psikologis keluarga kru kapal itu, dirinya mengatakan saat ini menyiagakan petugas psikologi untuk mendampingi keluarga yang ditinggalkan.

“Petugas psikologi siap mendampingi karena kondisi psikologis keluarga yang ditinggal berbeda-beda,” ujarnya.

Sebelumnya, Kasal Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan bahwa KRI Nanggala-402 tenggelam terjadi bukan karena terjadi human error (kesalahan manusia).

“Saya berkeyakinan ini (tenggelamnya KRI Nanggala, Red) bukan karena human error, tapi lebih pada faktor alam,” kata Laksamana Yudo Margono saat konferensi pers di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (25/4).

Ia menjelaskan bahwa untuk proses investigasi akan dilakukan setelah proses pengangkatan KRI Nanggala-402 selesai dilakukan. Ia menegaskan bahwa kapal tenggelam bukan terjadi karena human error. Hal ini dipastikan karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang benar.(an/wan)