Cara Sederhana Pembuatan Biogas dari Eceng Gondok

211

Masyarakat dibuat gempar akibat masalah kelangkaan gas LPG 3 kg. Padahal, gas LPG sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat terutama masyarakat dengan ekonomi yang rendah. Kelangkaan tersebut memang tidak dapat dihindari, mengingat keterbatasan bahan gas dari minyak bumi yang tidak dapat diperbarui. Untuk tetap menjaga kebutuhan disaat langkanya gas LPG 3 kg, kita dapat menggunakan energi alternatif lain seperti mengganti penggunaan gas LPG dengan biogas. Produk biogas dapat dibuat dengan menggunakan bahan alam yang dapat diperbarui sehingga tidak perlu khawatir akan terjadinya kelangkaan. Bahan yang dapat digunakan sebagai penghasil biogas, yakni tanaman eceng gondok yang dengan mudah dijumpai pada perairan seperti sungai, danau, atau waduk.

Dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok sebagai bahan baku biogas ternyata tidak hanya mengatasi kelangkaan gas LPG saja. Penggunaan tanaman eceng gondok sebagai bahan baku biogas juga dapat mengatasi jumlah eceng gondok yang telah memenuhi perairan. Eceng gondok yang memenuhi perairan tersebut dapat mengakibatkan turunnya kadar oksigen dalam air sehingga bisa menganggu keberlangsungan ekosistem air, pendangkalan, serta dapat digunakan sebagai tempat hidup bakteri. Oleh sebab itu, dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok sebagai bahan baku biogas kita dapat mengatasi kelangkaan gas LPG 3 kg dan menjaga ekosistem perairan.

Bagaimana Cara Membuat Eceng Gondok menjadi Biogas?

Eceng gondok atau Eichornia crassipes dapat berperan sebagai bahan penghasil biogas karena mempunyai kandungan hemiselulosa yang tinggi jika dibandingkan dengan komponen organik lainnya. Selain itu, eceng gondok juga memiliki struktur selusosa yang cukup sulit diuraikan sehingga kandungan hemiselulosa pada eceng gondoknya perlu dihidrolisis oleh bakteri menjadi glukosa secara anaerobic digestion yang nantinya akan menghasilkan karbondioksida serta gas metana sebagai biogas. Sebenarnya prinsip pembuatan biogas adalah dengan menggunakan adanya dekomposisi dari bahan organik secara anaerobik, yaitu tertutup dari udara bebas untuk menghasilkan gas berupa gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh beberapa mikroorganisme, terutama bakteri penghasil metana. Pembuatan dilakukan dengan menyiapkan alat dan bahan. Alat dan bahan yang dibutuhkan cukup sebagai berikut: Alat: Kompor biogas, Galon bekas, Pipa logam berdiamer 1 cm dan panjang 10 cm, Selang. Bahan: Air, Eceng gondok

Setelah alat dan bahan dipersiapkan, kita dapat langsung membuat biogas. Berikut adalah langkah pembuatan biogas sederhana dari eceng gondok:

  1. Eceng gondok dimasukan ke dalam galon hingga galon terisi setengahnya.
  2. Tambahkan air ke dalam galon dan tutup galon tersebut dengan rapat.
  3. Galon disimpan pada kurun waktu 7 hari agar menghasilkan gas.
  4. Tutup galon dilubangi sedikit dengan ditusuk dengan pipa logam yang memiliki panjang 10 cm.
  5. Pada ujung pipa logam yang menancap pada galon disambungkan dengan selang.
  6. Ujung selang lainnya dipasangkan pada kompor biogas.

Jika telah selesai melakukan perangkaian tersebut, kita dapat menyelakan menyalakan kompor biogas. Apabila pembusukan pada eceng gondok baik maka api dapat terus menyala sehingga bisa digunakan untuk memasak.

Eceng gondok memang dapat merusak lingkungan perairan. Oleh karena itu, memanfaatkan tanaman eceng gondok yang awalnya hanya sebagai tanaman penganggu menjadi salah satu produksi biogas. Biogas dari tanaman eceng gondok menjadi bahan yang ramah lingkungan dengan harganya yang terjangkau. Dalam hal itu, saat kita memanfaatkan tanaman eceng gondok yang ada di sekitar daerah sungai, kita dapat turut serta dalam mengurangi populasi eceng gondok yang berlebihan. Memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan dari biogas juga sangat membantu para warga masyarakat yang mulai kesulitan dalam memperoleh gas LPG untuk kegiatan sehari-hari.

Sebagai generasi muda bangsa kita juga harus bisa mengekplorasi kekayaan alam Indonesia yang kaya akan berbagai macam tumbuhan, seperti tumbuhan eceng gondok. Meskipun tumbuhan tersebut awalnya hanya dianggap sebagai gulma tetapi sekarang dapat dimanfaatkan sebagai biogas yang berharga. Kita juga jangan hanya bergantung dengan minyak bumi atau gas bumi yang nantinya dapat habis dan bisa menyebabkan berbagai efek lingkungan seperti polusi dan kontaminasi.

Oleh: Ulfatu Khoiriyah, Rebecca G Tampubolon, Rafiqi Susantriyo, Untsa Nuril Fauziah