Langkah Pemprov Jatim Hadapi Puncak Pandemi Covid-19 pasca Libur Lebaran Idul Fitri.

20

Surabaya, (harjatim)- Pemerintah Provinsi Jawa Timur mewaspadai peningkatan kasus virus corona (COVID-19) yang puncaknya diprediksi terjadi pada akhir bulan Juni hingga Juli mendatang sebagai dampak dari libur lebaran Idul Fitri.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan seluruh kepala daerah di tingkat kabupaten/kota melakukan langkah-langkah pencegahan, selain juga persiapan penanganan seandainya terjadi lonjakan kasus COVID-19.

“Pascalibur lebaran masyarakat masih banyak yang melakukan silaturahim Syawalan dengan berkeliling dari satu tempat ke yang lain. Untuk itu, diperlukan pengawalan, pemantauan dan pengendalian secara komprehensif,” katanya saat memimpin rapat koordinasi virtual dengan para kepala daerah serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah se- Jawa Timur yang dipusatkan di Markas Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Surabaya, Rabu.2/6

Mantan Menteri Sosial itu mengungkapkan zona hijau COVID-19 di tingkat rukun tetangga (RT) wilayah Jawa Timur saat ini tercatat 95 persen.

“Tetapi perlu diantisipasi bahwa silaturahim Syawalan masih berlangsung. Mereka dengan berkelompok masih melakukan silaturahim keliling,” tuturnya.

Gubernur Khofifah berharap seluruh bupati dan wali kota melakukan antisipasi, khususnya terhadap daerah yang bed occupancy rate (BOR) isolasi, rawat inap dan Intensive Care Unit (ICU)-nya saat ini mencapai 60 persen atau lebih.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Timur, terdapat sejumlah daerah yang BOR isolasi, rawat inap maupun ICU-nya saat ini di atas 60 persen, yaitu Kabupaten Bojonegoro, Ponorogo, Tuban, Bangkalan, Ngawi, Tulungagung, Madiun, serta Kota Madiun dan Blitar.

“Artinya harus ada pengendalian yang harus lebih intensif dilakukan karena data kuratifnya seperti itu. Dalam hal seperti ini, saya mohon kita semua yang sudah melakukan pemantauan pengendalian harian akan terus melakukan identifikasi. Apa yang kemungkinan menimbulkan dan memicu sebaran, atau sebaliknya untuk menurunkan kasus COVID-19 harus diidentifikasi,” tuturnya.(an/wan)