Tak Kunjung Keluarkan SK Pemberhentian Sekdes, Kades Gedangkulut Diluruk Warga

Larang Sekdes Masuk Kerja, Hingga 'Ancam' Demo

710

Oleh : Andik W

Gresik (hatjatim) – Polemik kasus yang menjerat Sekretaris Desa (Sekdes) Pemdes Gedangkulut, Edi Prayitno Kecamatan Cerme kian memanas. Penyebabnya kasus ‘mesum’ berujung hingga nikah siri yang menjerat Sekdes tak kunjung ada titik temu. Warga yang geram karena merasa aspirasinya ‘masih’ tidak mendapatkan hasil dari kepala desa akhirnya ‘ngeluruk’ kades ke pendopo balai desa, Kamis, (15/7/2021) malam.

Dalam video berdurasi 3:49 menit dan 0:55 detik yang beredar selain menuntut Sekdes Gedangkulut, Edi Prayitno mengundurkan diri dari jabatannya warga juga melarang Edi berhenti masuk kerja, segala aktifitasnya di Pemdes Gedangkulut ditiadakan. Mereka menuntut Kades bersikap tegas dan dapat menentukan langkah kongkret. Terutama segera menerbitkan Surat Keputusan (SK) Pemberhentian Edi Prayitno dari jabatan sekdes. Warga menilai prilaku dan etika Sekdes sudah mencemarkan intitusi dan kredibilitas Pemdes.

” Pengangkatan dan pemberhentian kades merupakan kewenangan kades. Maka kades harus melakukan langkah yang tegas. Ada apa ini sekdes kok tak kunjung diberhentikan,” tanya warga dalam video yang beredar.

” Kades harus segera memberhentikan kades dan melarangnya masuk kerja. Jika tidak digubris kita akan demo,” tambah warga lainya dalam video itu.

Menanggapi ini Kades Gedangkulut, Ali Mas’ud mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah namun masih menunggu hasil surat pengaduan perihal pelanggaran perangkat Desa Gedangkulut yang telah dilayangkan pada 27 Juni 2021 lalu.

” Kita masih menunggu sebuah rekomendasi ataupun sebuah memo dinas dari pak bupati terkait surat pengaduan yang sudah kita layangkan. Namun sampai sekarang belum ada jawaban. Saya harap warga bersabar. Senin (19/7/2021) rencananya kita kesana (kantor bupati red) untuk menanyakan,” terang Ali Mas’ud Jum’at (16/7/2021).

Menurut Ali rekomendasi ataupun memo dari Bupati nantinya akan jadi pijakan dalam membuat keputusan terkait SK pemberhentian Sekdes.

” Setelah ada rekomendasi ataupun memo dari Bupati terkait persoalan Sekdes. Kita akan segera mengumpulkan warga. Jika rekomendasi itu berisi pemberhentian maka saya akan segera menerbitkan SK pemberhentian,” tambahnya.

Ali mengaku memilih lebih berhati-hati dalam menentukan langkah. Masalahnya terkait pemberhentian perangkat desa semua ada mekanismenya. Meski dari hasil musyawarah desa (musdes) yang sudah dilakukan semua elemen masyarakat Badan Permusyawaratan Desa (BPD), karang taruna serta tokoh masyarakat menghasilkan pemberhentian sekdes.

” Hasil musdes yang sudah digelar, semua elemen masyarakat menghendaki Sekdes diberhentikan dari jabatannya,” tandasnya.

Selain itu juga ada surat pengunduran diri sebagai perangkat desa yang sudah dibuat Edi Prayitno pada 12 Mei 2021 lalu.

” Setelah perbuatan Sekdes Edi terungkap dan bergulir di masyarakat. Yang bersangkutan membuat surat pengunduran diri sebagai perangkat desa. Kemudian surat pernyataan tersebut saya tandatangani berstempel desa,” ungkap Ali.

Disinggung mengenai kabar adanya surat pernyataan pembatalan pengunduran diri sebagai perangkat desa yang dibuat Edi Prayitno. Ali membenarkannya namun surat tersebut tidak dikabulkan.

” Memang kita menerima surat pernyataan pembatalan pengunduran saudara Edi. Namun saya tidak mengabulkannya,” pungkas Ali.

Sementara Ketua BPD Gedangkulut, Sumali berharap kades dapat mengambil langkah kongkret terkait persoalan ini.

” Biar tidak menimbulkan gejolak di kalangan masyarakat. Kita berharap kades bisa mengambil langkah kongkret terkait persoalan ini,” tandasnya.

Ia mengaku mendapat laporan warga terkait perbuatan oknum perangkat desa tersebut. Ia lantas membuat surat secara resmi ke kades untuk menyikapi persoalan tersebut.

“Setelah mendapat laporan, kami langsung merespons dan membuat surat kepada kepala desa untuk ditindak sesuai aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Terkait persoalan itu, pihaknya mengaku juga sudah menggelar musdes.

” Setelah surat resmi kita kirimkan ke kades. Kita menggelar musdes. Hasilnya dari musdes semua yang hadir sepakat Edi berhenti dari jabatannya sebagai sekdes,”pungkasnya.

Persolan ini bermula ketika Edi Prayitno seorang pria yang menjabat sebagai Sekdes di Desa Gedangkulut Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik menjalin huhungan ‘gelap’ dengan seorang perempuan warga setempat terbongkar.

Hubungan keduanya hingga ‘naik level’ menikah secara siri. Padahal baik Edi maupun si perempuan sama-sama masih mempunyai pasangan yang sah secara hukum. Edi diketahui telah berkeluarga.Ia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Sementara si perempuan juga masih bersuami dan memiliki dua orang anak.

Hubungan ‘gelap’ ini kabarnya sudah terjalin sejak pandemi Covid-19 melanda, tepatnya tahun 2020. Kemudian setelah setahun berjalan, hubungan perangkat desa dengan wanita bersuami itu akhirnya terbongkar.Suami sah dari istri siri perangkat desa tersebut akhirnya mengetahui ada laki-laki lain dalam rumah tangganya.
Dia langsung membongkar hubungan oknum perangkat desa itu dengan istrinya.Bahkan ia mendatangi kantor desa karena tidak terima dengan tingkah laku oknum perangkat tersebut.Warga setempat pun ikut geram, meminta oknum perangkat desa dipecat.

Beberapa warga mengancam, jika masih melihat oknum perangkat desa itu masih bertugas, warga akan menggelar aksi demo. (awe)